Bundo Kandung

•Januari 21, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

091110“……..Sumarak Rumah Gadang, dek Bundo Kanduang”. Kalimat sepotong ini memang pendek, tetapi memiliki makna sangat dalam dan sangat menentukan masa depan bangsa. Kok di Nagari, yaa….. masa depan Nagari-lah……

Rumah Gadang bagi etnis Minangkabau bukanlah sekedar bangunan besar. Disamping sebagai tempat tinggal, Rumah Gadang juga berfungsi sebagai tempat musyawarah keluarga, mengadakan upacara dan alek lain terkait dengan adat.

12Sebagai tempat tinggal, rumah gadang ada aturan. Perempuan bersuami mendapat bagian satu kamar. Perempuan paling muda mendapat kamar paling ujung., sementara perempuan tua dan anak-anak mendapat kamar dekat dapur. Sedangkan laki-laki tua, duda, dan bujangan tidur di surau kaum.

Memang rumah gadang identik dengan kaum perempuan yang biasa disebut Bundo Kanduang.

Sumarak atau kalau diterjemahkan bebas sama dengan sumringah atau apa ya…. emmm… dinamis penuh gairah dan full energi positif….

Suasana seperti itu baru bisa tercipta jika pemimpin atau bundo kanduang yang punyo wewenang di rumah gadang merupakan sosok yang arif dan memiliki jiwa kepemimpinan.

Dengan sosok seperti diatas, maka dia akan penuh perhatian kepada anak kemenakan dan lahirlah anak nagari pilih tanding. Dan cerahlah masa depan Nagari.

Coba kalau Bundo kanduang yang matre, hanya pandai besolek tak mau tahu dengan keluarga dan kaumnya, sudah dapat dipastikan, buremlah rumah gadang itu. Tak sumarak lagi…… ancuuuurrr…. nagari tu….

Alek Nagari

•Januari 20, 2009 • 2 Komentar

dsc_0320x“Elok Nagari dek Penghulu. Rancak Tapian dek nan Mudo. Sumarak Rumah Gadang dek Bundo Kanduang”. Ini kalimat tuah yang menjadi semangat anak nagari Situjuah Goadang, dan sudah tentu juga nagari-nagai lain di Ranah Minang.

Hari itu Nagari Situjuah Godang sungguh ramai dari biaso. Sabtu 24 Pebruari 2007, atau tanggal 6 bulan Safar 1428 H, anak nagari Situjuah Godang baralek gadang malewakan Datuk. Alek sebenarnya sudah dimulai sejak hari Jumat, tanggal 23 Pebruari 2007 dan selesai tanggal 25 Februari 2007.

talempongg05a01bc011Duapuluah urang secara bersama di lewakan di Balai Adat Kanagarian Situjuah Godang. Ninik mamak, kemenakan, bundo kanduang, tumplek blek maarak calon Datuk dari Masajik di Padang Kuniang ke Balai Adat di Situjuah Godang.

Selama prosesi di Balai Adat, patatah petitih yang berisi kata petuah disampaikan bak gayung besambut, sampai akhirnya dilaksanakan sumpah untuk para kandidat Datuk.

dsc_0401Ada satu kalimat yang kuingat, jika Datuk melanggar sumpah dia akan termakan sumpah sehingga “….kabawah indak baurek, ka ateh indak bapucuak, ditengah-tengah digirk kumbang….”.

Hiii…. ngeri kali tu sumpah Datuk. Jika melanggar, ke bawah tidak berakar, ketas tak berpucuk, ditengah di gerogoti oleh kumbang……. Apa nggak ngeri tu sumpah…. Mau jadi apa si Datuk jika sudah melanggar sumpahnya….??!!

Pertanyaannya, jaman sekarang apa masih ada kejadian Datuk yang termakan sumpah karena ingkar dari sumpah yang diucapkan pada saat dilewakan…?? Akan bagus sekali jika ada dun sanak yang bisa bebagi cerita tentang Datuk yang termakan sumpah ini…..

Mak Datuk

•Januari 19, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

mak-datuk1Dulu, waktu sama-sama bekerja bersama petani di Ranah Minang, aku biasa panggil dia Sago atau Brewok, gelar yang malakek sama dia karena memang dia brewokan.

“Brewok tadi kama nyo?”, begitu sekali waktu aku bertanya ke kawan jika sedang kecarian dia.

Kini setelah inyo jadi Wali Nagari di Nagari Situjuah Godang – Payakumbuah, panggilan alah berubah se dan inyo biaso wak panggia Mak Datuk.

Parubahan caro mamanggia ini sajak inyo dilewakan jadi Datuak di bulan Pebruari tahun 2007. Kini inyo bagala Datuak Majo Indo dan ber singgasana di Rumah Gadang Payobada – Padang Kuniang.

klg-mak-datukrg-payobadaDidampingi istri yang juga menjadi Bundo Kanduang, kini Mak Datuk Majo Indo menjadi salah satu tokoh yang dituakan di Kanagarian Situjuah Godang. Hal ini tidak terlepas dengan posisi dan amanah yang diemban sebagai Wali Nagari.

Terakhir dia bikin gebrakan, bersama masyarakat penduduk Kanagarian Situjuah Godang, tanggal 20 Januari 2009 mendirikan Bank Petani yang mereka beri nama “LKMA Limo Suku Kanagarian Situjuah Godang”. Bank ini didirikan oleh 109 pemegang saham dengan total saham 431 lembar. Tiap lembar saham dihargai Rp 50.000,- sehingga setiap keluarga di Kanagarian Situjuah Godang mampu memiliki saham bank tersebut.

Sebelum mengemban amanah sebagai Wali Nagari, Mak Datuk aktif di organisasi Serikat Petani, jadi tidak mengherankan jika sampai saat ini orientasi beliau untuk petani tak pernah lekang. Apalagi Nagari Situjuah Godang memang daerah pertanian.

dsc_0276dsc_0167cdsc_0717xdsc_9744z